<!DOCTYPE html>
<html lang="en">
  <head>
    
    <meta charset="utf-8">
    <meta http-equiv="X-UA-Compatible" content="IE=edge">
    <meta name="viewport" content="width=device-width, initial-scale=1">
    
    <title>Akira's Journal. &mdash; Tentang Aku dan Dua Cara Dicintai</title>

    <meta name="description" content="">  

    <link rel="stylesheet" href="https://blog.kirr.my.id/assets/css/main.css?1778309118162601897">

    <link rel="apple-touch-icon" href="/assets/images/icon-512.png"></head>
  <body>


    
  


  <nav class="site-navigation" role="navigation">
    <ul>
      <li>
        <a href="/">
          Home
        </a>
      </li>
    
      <li >
        
          <a href="/about.html">
            About
          </a>
        
      </li>
    
      <li>
        <a target="_BLANK" href="https://pin.it/54pwNSoQh">
          Pinterest
        </a>
      </li>
    </ul>
  </nav>




<article class="post h-entry" itemscope itemtype="http://schema.org/BlogPosting" id="main" role="article" aria-label="Content">

  
    <h1 class="post-title divided p-name" itemprop="name headline">
      Tentang Aku dan Dua Cara Dicintai
    </h1>
  

  <div class="post-content e-content" itemprop="articleBody">
    Aku pernah percaya bahwa cinta adalah tentang keteguhan. Tentang bertahan. Tentang menunggu.

Aku pernah membuat sebuah janji, bukan janji yang diucapkan dengan gegap gempita, melainkan janji yang lahir dari harapan dan keyakinan bahwa suatu hari nanti kami akan bertemu kembali sebagai diri yang lebih baik. Kami berpisah bukan karena tidak cinta, tetapi karena waktu meminta kami tumbuh dulu.

Sejak saat itu, aku hidup dengan satu arah, kembali. Setiap langkah yang kuambil terasa seperti bagian dari perjalanan panjang menuju seseorang yang kucintai. Ia adalah sosok yang mendukung setiap langkahku, menegurku saat aku hampir salah arah, menjadi pengingat bahwa aku bisa menjadi manusia yang lebih baik. Ia meninggalkan kesan yang tidak pernah benar-benar hilang. Ada ruang di hatiku yang namanya tidak pernah terganti.

Lalu seseorang datang.

Bukan sebagai badai. Bukan sebagai pengganti. Ia datang sebagai kehangatan.

Ia hadir ketika aku lelah. Ia memilihku saat aku masih berjuang untuk orang lain. Perhatiannya tulus, cintanya nyata. Di sampingnya, aku merasa damai. Tidak ada kegaduhan, tidak ada keraguan yang berteriak. Hanya ketenangan karena dicintai apa adanya.

Dan di situlah aku mulai bertanya, *apakah aku salah jika hatiku perlahan membuka ruang baru?*

Aku menyadari sesuatu yang menyakitkan sekaligus membebaskanku, aku masih mencintai orang pertama. Rinduku padanya bukan sekadar nostalgia. Itu adalah rindu pada seseorang yang pernah menjadi rumah bagi pertumbuhanku. Namun aku juga tidak bisa memungkiri bahwa orang kedua bukanlah sekadar pelarian. Ia berbeda. Ia bukan bayangan siapa pun. Ia berdiri sebagai dirinya sendiri.

Aku hidup di antara dua waktu.

Satu adalah masa depan yang dijanjikan, namun belum tentu datang tepat waktu.
Satu lagi adalah masa kini yang memelukku dengan kehangatan yang pasti.

Aku pernah bertanya pada diriku sendiri, *jika penantian ini berakhir tanpa hasil, apa yang akan kurasakan?*

Jawabannya membuatku terdiam. Aku akan sangat sedih. Namun diam-diam, aku juga akan lega.

Sedih karena kehilangan harapan yang begitu lama kupegang. Lega karena akhirnya aku tidak lagi menggantungkan hidup pada ketidakpastian.

Di situlah aku mengerti bahwa menunggu bisa menjadi bentuk cinta, tetapi juga bisa menjadi beban. Dan terkadang kita tidak sadar kapan cinta berubah menjadi kewajiban yang kita pikul sendiri.

Orang pertama adalah janji. Orang kedua adalah kehadiran.

Janji mengajarkanku setia pada mimpi. Kehadiran mengajarkanku bahwa aku pantas dicintai hari ini, bukan nanti.

Aku belajar bahwa memilih bukan hanya soal siapa yang lebih baik. Ini tentang kepada siapa aku ingin pulang tanpa menyisakan bayangan. Tentang keberanian untuk jujur, apakah aku bertahan karena cinta, atau karena takut melepaskan?

Aku tidak pernah ingin menjadi seseorang yang menyimpan dua hati sekaligus. Aku tidak ingin menjadikan siapa pun tempat persinggahan. Karena cinta yang dewasa bukan tentang memiliki banyak kemungkinan, tetapi tentang berani menetapkan arah.

Barangkali hidup memang tidak selalu memberi kita satu cinta dalam satu waktu. Kadang ia menguji kita dengan kehadiran yang terlambat dan kedatangan yang terlalu tepat.

Kini aku tahu, yang paling penting bukan siapa yang datang lebih dulu atau siapa yang datang lebih nyata. Yang paling penting adalah siapa yang kupilih dengan kesadaran penuh, tanpa merasa terpaksa, tanpa merasa kehilangan diri sendiri.

Jika suatu hari aku harus kehilangan salah satu, aku ingin kehilangan itu karena pilihan yang jujur, bukan karena ketakutan, bukan karena tekanan janji, bukan karena kasihan.

Di antara janji dan kehadiran, aku sedang belajar satu hal paling sederhana dan paling sulit, memilih dengan hati yang utuh.

Dan mungkin, pada akhirnya, cinta bukan hanya tentang siapa yang kita rindukan. Tetapi tentang siapa yang membuat kita merasa pulang, tanpa harus menunggu terlalu lama.

  </div>

  <div class="post-meta">
    
      <div itemprop="author">Achmad Akira Syahputra</div>
    
    <time class="post-date dt-published" datetime="2025-11-11T00:00:00+00:00" itemprop="datePublished">November 11, 2025</time>
  </div>

  

</article>




    


  <nav class="site-navigation" role="navigation">
    <ul>
      <li>
        <a href="/">
          Home
        </a>
      </li>
    
      <li >
        
          <a href="/about.html">
            About
          </a>
        
      </li>
    
      <li>
        <a target="_BLANK" href="https://pin.it/54pwNSoQh">
          Pinterest
        </a>
      </li>
    </ul>
  </nav>



    
      <aside class="site-credits">
        <p>
          <small>© Achmad Akira Syahputra · Theme by <a target="_BLANK" href="https://github.com/patdryburgh/hitchens">Hitchens Theme</a> powered by <a target="_BLANK" href="http://jekyllrb.com">Jekyll</a></small>
        </p>
      </aside>
    

  </body>
</html>
