Aku mulai lelah menjadi diriku sendiri. Bukan karena hidup ini terlalu berat, tapi karena aku sudah terlalu lama hidup di dalam kepala yang tidak pernah memberiku ketenangan. Setiap hari rasanya seperti persidangan tanpa akhir. Tidak ada hakim, tidak ada penonton, hanya aku yang terus mengadili diriku sendiri atas semua hal yang gagal kulakukan, semua kesempatan yang kulewatkan, dan semua versi diriku yang tidak pernah berhasil menjadi nyata.
Aku melihat orang lain berjalan maju, sementara aku sibuk bertarung dengan pikiranku sendiri. Aku memaksa diri untuk tetap berdiri, tetap tersenyum, tetap terlihat baik-baik saja. Padahal di dalam, semuanya perlahan runtuh. Yang tersisa hanya rasa lelah yang semakin hari semakin sulit dijelaskan.
Aku muak dengan diriku yang selalu kurang. Kurang pintar. Kurang berani. Kurang kuat. Kurang segalanya. Seolah hidup ini adalah perlombaan yang bahkan sebelum dimulai aku sudah tertinggal jauh dari semua orang. Dan yang paling menyakitkan, aku tidak bisa lari dari orang yang paling sering menghancurkanku. Karena orang itu adalah diriku sendiri.
Ada saat-saat ketika aku menatap diriku dan bertanya, sebenarnya apa yang sudah aku lakukan selama ini? Kenapa setelah semua usaha, semua pengorbanan, semua rasa sakit yang ditelan diam-diam, hasilnya tetap terasa kosong? Kenapa semakin keras aku berusaha memperbaiki diri, semakin jelas terlihat betapa banyak cacat yang tidak bisa kuperbaiki?
Mungkin memang tidak ada yang lebih menyakitkan daripada menyadari bahwa luka terdalam tidak selalu datang dari luar. Kadang luka itu tumbuh di dalam diri sendiri. Tumbuh perlahan, diam-diam, dari kekecewaan yang terus dikubur, dari harapan yang berulang kali hancur, dari rasa tidak cukup yang setiap hari diberi makan oleh kegagalan-kegagalan kecil yang tidak pernah benar-benar hilang.
Aku lelah menjadi penjara bagi diriku sendiri. Lelah menjadi orang yang selalu menuntut lebih, lalu membenci dirinya ketika tidak mampu mencapainya. Lelah mencoba memenuhi standar yang bahkan aku sendiri tidak tahu ujungnya di mana. Dan semakin aku memikirkannya, semakin aku sadar bahwa mungkin rasa lelah ini bukan karena dunia terlalu kejam. Mungkin karena aku sudah terlalu kejam pada diriku sendiri.
Pada akhirnya, yang paling membuatku hancur bukan kegagalan. Bukan penolakan. Bukan keadaan. Melainkan kesadaran bahwa selama ini aku telah menghabiskan begitu banyak waktu mencoba menjadi seseorang yang layak dihargai, sampai lupa bagaimana rasanya menerima diriku sendiri. Aku terus mengejar sesuatu yang tidak pernah bisa kuraih, lalu membenci diriku karena tidak berhasil mendapatkannya. Berulang. Terus berulang. Sampai aku tidak lagi tahu apakah aku sedang hidup, atau hanya bertahan di dalam lingkaran yang sama.